Senin, 31 Maret 2014


Martin Luther juga menegasikan image Yesus yang suci. Ini bisa ditemukan dalam Table-Talk-nya Luther,(Edisi Weimar, ii: 107.) yang autentisitasnya tidak pernah diragukan meskipun bagian-bagian tertentu sangat mempermalukan.

Bapak-bapak gereja diseluruh dunia sangat merahasiakan hal ini sekuat tenaga mereka, karena takut ketahuan dengan seluruh umat Kristen, yang dapat mengakibatkan umat Kristen itu nantinya akan banyak lari meninggalkan agama mereka.

Tetapi rahasia ini bocor juga, sehingga pada hari ini, hampir separuh umat Kristen itu telah lari dari agama mereka, banyak diantara mereka yang menjadi penganut Islam, juga menjadi Atheis. Mereka memilih Islam, karena menurut mereka Islam adalah agama yang lebih rasional, ketimbang Kristen.

Kenapa mereka menjadi Atheis? Karena mereka telah mengidap penyakit stress yang sangat berat, akibat dari hilangnya kepercayaan mereka kepada tuhan Yesus, ternyata yang mereka sembah selama ini bukanlah tuhan, tetapi hanyalah seorang manusia, yang masih membutuhkan wanita, layaknya manusia biasa. Mereka juga merasa sangat kecewa dengan bapak-bapak gereja, yang telah menipu umat Kristen selama lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sehingga mereka akhirnya tidak mempercayai lagi bahwa Tuhan itu ada.

Arnold Lunn menulis:
Weimer menyitir satu nukilan dari Table-Talk di mana Luther menyata­kan bahwaKristus berzina tiga kali, pertama dengan perempuan di sumur, kedua dengan MaryMagdalena, dan ketiga dengan perempuan yang diambil dalam perzinaan, "Yangdia lepaskan begitu saja.

Dengan demikian, Kristus yang begitu suci telah berzina sebelum meninggal.

(ArnoldLunn, The Revolt Against Reason, Eyes & Spottiswoode (Publishers), London,1950, hlm. 233. Inilah aslinya: "Christus adultery. Christus ist am erstenein ebrecher worden Joh. 4, be idem brunn cum muliere, quia illi dicebant: Nemosignificant, quid tacit cum ea? Item cum Magdalena, item cum adultera Joan. 8,die er so Ieicht dauon lies. Also mus der from Christus auch am ersten einebrecher warden ehe er starb.")

Senin, 24 Maret 2014



Penggunaan kata “KAMI” Dalam alquran

Seringkali, orang kafir mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya, mengapa Qur’an banyak menggunakan kata KAMI untuk ALLAH? Bukankah kami itu banyak? Itu berarti Qur’an pun mengakui “Tuhan” bapa, “Tuhan” anak & “Tuhan” roh!

Bagaimana kita menjawab pertanyaan semacam ini???

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan semacam ini. Pertanyaan bisa berawal dari tidak tahu, namun banyak pula para kufar yg berusaha untuk membodohi umat Islam yang banyak tidak faham dengan bahasa arab. Pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata melawan umat Islam.

A. Konteks Penggunaan Pertama

Yang utama harus diingat ialah, Bahasa Arab adalah bahasa yang paling sukar didunia. (dan bahasa paling sukar kedua adalah Bahasa China).

Hal ini disebabkan karena dalam 1 kata, bahasa arab bisa memiliki banyak makna. kandungan seni serta balaghah dan fashohahnya
Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah bisa bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain bisa bermakna perempuan.

Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular (anâ), dan ada kata ganti pertama plural (nahnu). Sama dengan tata bahasa lainnya. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular. Dalam gramer Arab (nahwu-sharaf), hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i” , kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.
(Dhamir ‘NAHNU’ ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu ‘NAHWU’, maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya).

Permasalahannya terjadi setelah al-Quran yang berbahasa Arab, dengan kekhasan gramernya, diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Indonesia, yang tak mengenal “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i” tersebut. Akan tetapi, setelah mengetahui perbedaan gramer ini, kejanggalan tersebut, mudah-mudahan segera dapat dimengerti dan dimaklumi.

Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang setengah-setengah.

Jika memang “KAMI” dalam Qur’an diartikan sebagai lebih dari 1, lalu mengapa orang arab yg jauh lagi faham akan bahasa arab tidak menyembah lebih dari 1 ALLAH?

Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.
Selain kata ‘Nahnu”, ada juga kata ‘antum’ yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan ‘anta’.
Kata ‘Nahnu` tidak selalu bermakna banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Kepala Sekolah dalam pidato sambutan berkata,”Kami sebagai kepala sekolah berpesan . . . “.
Padahal Kepala Sekolah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa Kepala Sekolah sebenarnya ada banyak, atau hanya satu ?

Kata “kami” dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa diserap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Kalau umat khristiani tidak bisa faham rasa bahasa ini, harap maklum saja, karena alkitab bible mereka memang telah kehilangan rasa bahasa. Bahkan bukan hanya kehilangan rasa bahasa, tapi juga kehilangan kesucian sebuah kitab suci.
Seperti yg sudah diketahui banyak orang, alkitab Khristiani merupakan terjemahan dari terjemahan yang telah diterjemahkan dari terjemahan sebelumnya.

Ada sekian ribu versi bible yang antara satu dan lainnya bukan saja tidak sama tapi juga bertolak belakang. Jadi wajar bila alkitab christian mereka itu tidak punya balaghoh, logika, rasa dan gaya bahasa. Dia adalah tulisan karya manusia yang kering dari nilai sakral.

Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata ‘ummat’. Biasanya kita memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.

Sesungguhnya Ibrahim adalah “UMMATAN” yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan. (QS. An-Nahl : 120)

B. Konteks Penggunaan Kedua.

Kata “Kami” bermakna bahwa dalam mengerjakan tindakan tersebut, Allah
melibatkan unsur-unsur makhluk (selain diri-Nya sendiri). Dalam kasus
nuzulnya al-Qur’an, makhluk-makhluk yang terlibat dalam pewahyuan
dan pelestarian keasliannya adalah sejumlah malaikat, terutama Jibril;
kedua Nabi sendiri; ketiga para pencatat/penulis wahyu; keempat, para
huffadz (penghafal) dll. (Coba perhatikan baik-baik, kebanyakan ayat-ayat
yang bercerita tentang turunnya al-Qur’an [dalam format kalimat aktif],
Allah cenderung menggunakan kata Kami).

Contoh
“Sesungguhnya Kami telah turunkan al-Zikr [Al-Qur'an] dan Kami Penjaganya
(keaslian)”. [kami lupa pada surat dan ayat berapa].
Contoh lain, coba lihat ayat-ayat tentang mencari rezki. Dalam ayat-ayat tersebut. Allah sering
menggunakan kata Kami; artinya, rezki harus diusahakan oleh manusia itu sendiri, walaupun kita juga yakin bahwa rezki sudah ditentukan oleh Allah.

C. Konteks Penggunaan Ketiga.

Ayat yang menggunakan kata Kami biasanya menceritakan sebuah peristiwa
besar yang berada di luar kemampuan jangkauan nalar manusia, seperti penciptaan Adam,
penciptaan bumi, dan langit. Di sini, selain peristiwa itu sendiri yang nilai besar,
Allah sendiri ingin menokohkan/memberi kesan “Kemahaan-Nya” kepada manusia, agar
manusia dapat menerima/mengimani segala sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar/rasio manusia.

Contoh.
“Sesungguhnya KAMI telah menciptakan
kamu (Adam), lalu KAMI bentuk tubuhmu,
kemudian KAMI katakan kepada para malaikat:
“Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka
merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk
mereka yang bersujud” ([al-A’raf 7:11)

Jika ada orang kufar berani mengganggu iman Islam, maka katakanlah yg HAQ itu HAQ & katakana pula yg BATHIL itu BATHIL. Sampaikanlah dengan hikmah & cara yg baik.
Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka…(Qs. 29 Ankabuut: 46).

Rabu, 19 Maret 2014

Darma Sudiro YANG BERAGAMA KRESTEN/KATOLIK YG BACA INI LANGSUNG KO BERAT ALIAS GILA, INI BUKTI KEBENARAN ALQUR'AN Bibel, Al-Quran, dan Ilmu Pengetahuan Modern
Bibel, Al-Quran, dan Ilmu Pengetahuan Modern, adalah
judul sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Maurice Bucaille.
Bibel, Qur'an dan Ilmu Pengetahuan Modern judul asli
dalam bahasa Perancis La Bible,le Coran et la Science (1976)
menjadi best-seller internasional di dunia Muslim dan telah
diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di
dunia. Bucaille menjadi ternama dengan karyanya ini. Karyanya
ini mencoba menerangkan bahwa Al Qur'an sangat konsisten
dengan ilmu pengetahuan dan sains, namun bahwa Alkitab atau
Bibel tidaklah demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel
yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan.
Dr. Maurice Bucaille (lahir di Pont-l'Eveque, 19 Juli 1920 –
meninggal 17 Februari 1998 pada umur 77 tahun) adalah
seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis. Bucaille
dalam bukunya mengkritik Alkitab atau Bibel yang ia
anggap tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan.
Sedangkan dalam Al Qur'an terdapat banyak kecocokan
dengan fakta sains. Di antaranya ialah: "Dan kamu lihat
gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,
padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (QS 27:88)
Bucaille menjelaskan bahwa ternyata gunung-gunung
bersama dengan lempeng bumi bergerak. Jadi ayat Al Qur'an di
atas sesuai dengan ilmu pengetahuan. Pada pertengahan tahun 1975
Perancis menawarkan diri pada pemerintah Mesir untuk meneliti
mumi Firaun. Setelah disetujui, mumi Firaun dibawa ke Perancis
untuk diteliti lebih lanjut dibawah pimpinan Prof. Dr. Maurice Bucaille. Setelahmelakukan pembedahan, ternyata hasil akhir yang ia
peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat
pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah
mati karena tenggelam. Setelah ditemukan dari laut jasadnya
segera dikeluarkan dan kemudian dibalsem untuk
dijadikan mumi agar awet. Penemuan tersebut masih
menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang professor.
Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang
lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?
Hasil penelitiannya kemudian dia terbitkan dengan judul Mumi
Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern atau judul aslinya , Les
momies des Pharaons et la médecine. Berkat buku ini, dia
menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boès (penghargaan
dalam sejarah) dari Académie française dan Prix general
(Penghargaan umum) dari Academie nationale de medicine,
Perancis. Ditengah kepuasan atas semua prestasinya itu, ada seorang
teman Bucaille mengatakan “jangan tergesa-gesa karena
sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang
tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini
dengan keras sekaligus menanggapinya mustahil.
Bagaimana tidak, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin
diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern,
melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.
Ditengah kebingungan ini, Bucaille bertanya kepada
ilmuwan muslim dan tentu saja langsung ditunjukkan salah satu
ayat Al-Quran “Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu
(Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-
orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan
dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS
Yunus [10]: 92).
Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa
ayat Al-Quran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk
maju. Hatinya bergetar dan mengakui “Sungguh aku masuk
Islam dan aku beriman dengan Al-Quran ini”.
Kisah masuk Islam-nya Prof. Dr. Maurice Bucaille sejatinya
mencerahkan kita. Bahwa keimanan yang sebenarnya, lahir
dari sebuah proses berfikir, bukan semata-mata ikut-ikutan
atau warisan orang tua. Ini juga menjadi bukti kebenaran Al-
Quran sebagai wahyu Allah. Makanya sudah pasti kalo hidup
kita diatur oleh hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al-
Quran, Sunnah, Ijma, dan Qiyas, dijamin akan berkah dunia
akhirat

Rabu, 05 Maret 2014

Teologi Trinitas dan Tritunggal di Indonesia dan Malaysia, Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus, berasal dari ajaran sesat Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885), yang bernama asli Raden Kusuma, berasal dari Kawedanan Juwono, Kediri. Diperkirakan beliau menjadi penganut Kristen pada tahun1855.

Tunggul Wulung adalah orang awam Kristen, yang pertama kali membuat tuhan-tuhan berhala Kristen Indonesia dan juga Kristen Malaysia, yaitu Bapa Allah, Putra Allah dan Roh Suci Allah, yang kemudian disempurnakan oleh teolog Indonesia, menjadi Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. 

Di Malaysia disempurnakan oleh pakar teologi mereka, menjadi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

Tunggul Wulung juga adalah orang yang pertama kali membuat rumusan dasar  teologi Trinitas dan Tritunggal di Indonesia, juga trinitas di Malaysia. Jadi wajar kalau Ibrahim Tunggul Wulung diberikan gelar Bapak Teologi Indonesia dan Malaysia.

Ini adalah kebodohan yang sagat fatal dari Teologi Tunggul Wulung. Lalu mengapa semua ini bisa terjadi? Dari kalangan Kristen itu sendiri akan menjawab pertanyaan ini: Kalangan pengajar Gereja Indonesia di Tanah Jawa (GITJ) yang menganggap ajaran Tunggal Wulung sebagai bentuk kekeliruan secara teologis, dangkal karena hanya dua bulan belajar agama Kristen, dan dianggap sinkretisasi kepercayaan Jawa.

Namun yang sangat mengherankan, kebodohan itu malah menjadi dasar teologi para pakar teologi di Indonesia dan Malaysia pada saat ini. Cukup mencengangkan bukan?

Mari kita lihat dua kesalahan yang sangat fatal dari teologi Tunggul Wulung ini:

Pertama, beliau menggabungkan nama Tuhan Islam "Allah" dengan tuhan-tuhan berhala Kristen.

Kedua, beliau  merubah sifat Allah, yang bersifat tunggal (Esa), menjadi bersifat jamak, menjadi tiga allah, lalu menggabungkannya dengan tuhan-tuhan berhala Kristen, menjadi Bapa allah, Putra Allah dan Roh Suci Allah.

Disini kita dapat melihat kesalahan yang sangat fatal dari Teologi Tunggul Wulung itu, sangat kelihatan Tunggul Wulung sama sekali tidak mengerti dengan sifat Allah, yang bersifat tunggal (Esa). Beliau malah membuat tuhan tuhan, allah-allah yang baru, bersifat jamak, menjadi tiga allah.

Teologi Trinitas dan Tritunggal di Indonesia ini, telah menyimpang sangat jauh dari Teologi Trinitas Kristen yang sebenarnya. Makanya kita tidak pernah menemukan tuhan-tuhan yang bernama Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus didalam Injil manapun juga.

Terbukti pusat Kristen Protestan dan Katolik sendiri tidak pernah menyembah tuhan-tuhan yang bernama Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus ini. Mereka hanya menyembah Bapa, Anak dan Roh Kudus saja

Dan juga sudah sangat jauh melanggar Teologi Kalvin, teologi yang dipakai oleh Kristen Protestan di Indonesia. Kelvin sendiri tidak pernah mengajarkan Teologi Trinitas Dan Tritunggal Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus, apalagi menyembah tuhan-tuhan itu. Justru beliau tidak mengenalnya, karena tuhan-tuhan ini baru dibuat oleh Tunggul Wulung pada abad ke-18 M. Sedangkan Teologi Kalvin sudah ada sejak abad ke-16 M. Jika Anda tidak percaya, silahkan Anda memeriksanya sendiri, Teologi Kalvin tersebut, baik dalam bahasa Latin maupun dalam bahasa Perancis. Namun percayalah, sampai kapan pun Anda tidak akan pernah menemukanya.

Bukti Tunggul wulung adalah orang yang pertama kali membuat tuhan-tuhan Kristen Indonesia dan Malaysia, kita dapat melihatnya dari rapalan yang beliau ciptakan sendiri: 

Bapa Allah, Putra Allah, Roh Suci Allah 

Telu-telune tunggal dadisawiji

Lemah sangar kayu angker

Upas racun pada tawa

Idi Gusti manggih slamet salaminya

Artinya: 
Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Suci                                                                                                                                             
Ketiganya menjadi satu

Kawasan yang berbahaya, pohon yang jahat

Segala racun bisa akan menjadi tawar

Berkat rahmat Tuhan menemukan keselamatan selamanya

Pada zaman ini, umat Kristen Jawa menyebutkan "Roh Kudus" itu dengan istilah "Roh Suci".

Ajaran menyembah tiga tuhan berhala ini, sebenarnya berasal dari keputusan sidang konsili tahun 381, Pada sidang itu diputuskanlah untuk membuat tuhan Kristen satu lagi, yaitu Roh Kudus, yang setara dengan Bapa dan Tuhan Yesus. Maka sejak tahun 381 itu, resmilah tuhan Kristen menjadi tiga.  

Yesus sendiri tidak pernah mengenal tuhan-tuhan ini, apa lagi mengajarkan dan menyembah ketiga tuhan ini. Karena tuhan-tuhan ini baru dibuat oleh Ibrahim Tunggul Wulung sekitar 1800 tahun setelah Yesus diangkat ke langit. Mungkinkah Yesus mengenalnya? Tidak mungkin bukan?

Paulus sendiri sebagai pendiri agama Kristen, mengajarkan tuhan itu hanya dua, yaitu Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, tuhan-tuhan inilah yang hanya disembah Paulus. Paulus sendiri tidak pernah menyembah tuhan-tuhan yang bernama Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. 

Kristen mempunyai ajaran yang terbalik, yaitu mereka sendirilah yang membuat tuhan-tuhan mereka, bukan malah tuhan-tuhan itu yang menciptakan mereka. Ajaran Kristen ini sama seperti agama berhala lainnya, seperti Budha, Hindu, Mitra (agama berhala Dewa Matahari) dan lain sebagainya. 

Tidak seperti Islam, Allah lah yang menciptakan manusia, bukan manusia yang membuat Allah. Inilah perbedaan yang sangat jauh, antara agama Allah dan agama berhala.

        Bapak Teologi Indonesia dan Malaysia